Spekulasi Kehidupan

Senin, 23 April 2012

Untuk Kamu



Didepan monitor begini kamu akan berlama-lama menyelami dunia maya, terkadang sengaja melupakan kehidupan nyatamu yang tak baik-baik saja, menghentikan puluhan menit yang kamu benci. Malam semakin malam, nyanyian-nyanyian kehidupan akan kamu putar menemani kehampaanmu, dengan volume pelan terkadang bibirmu mengikuti nyanyian. Kamu kaku.

Dingin mulai merambat ke jari-jari kakimu, dengan duduk bersila kamu segera menyalakan korek api menyudutkan pada batang rokokmu. Pikiranmu mulai tenang, tapi tak sepenuhnya. Ada secuil rasa yang tak pernah kamu tahu. Sesekali kamu mengangkat kepalamu, menghembuskan asap rokok dengan pelan, seolah memberitakan pada langit-langit kamar bahwa kamu mulai baik-baik saja. Kamu angkuh.

Saluran televisi kamu nyalakan, berita kejahatan mewarnai monitormu, kamu muak, kamu malas, kamu matikan. Secangkir kopi kamu teguk dengan cepat seperti takut terdahului oleh dingin. Kamu hisap lagi batang rokok, tapi kali ini dengan hembusan yang lebih cepat. Kamu gelisah.  

Pagi sudah berganti hari, kamu sedang berfikir untuk esok yang lebih menyenangkan dari ini. Lalu kamu ingat jadwal kuliahmu yang membosankan, yang ingin segera kamu habiskan tanpa sisa. Kini kamu ingat teman-temanmu, bukankan mereka lebih membosankan? Kamu tertawa sengit.

Kamu segera menghapus tawa sengitmu, kamu mulai mendengarkan dirimu berbincang dengan hati, ah ini yang tak kamu sukai. Sekarang perutmu yang gelisah. Tanganmu, membuka kantong plastik mencari-cari makanan ringan yang sore tadi kamu beli. Tersisa satu. Kamu diam.

Pukul 3 dini hari. Kamu akan mengakhiri lelucon ini, mematikan lampu, menuju kasur, menarik selimut. Tapi tunggu.., ponselmu berdering pertanda datang pesan singkat. Kamu tidak segara membacanya, masih menebak keperluan apa yang akan menggangumu. Kamu kesal.

Ponsel telah kamu ganggam, 1 new message. From Laras: Hai kak.

Ada rasa hangat seketika, seperti mentari terbit dipagi hari, punggungmu hangat, wajahmu sedikit berseri, kamarmu tidak lagi terasa gelap walau kamu padamkan lampu. Kamu, kamu mulai jatuh cinta.


21 April 2012
11.55 am

Kamis, 19 April 2012

Dialog Senja




Sudah ku ketahui beberapa hari belakangan ini, kamu akan segera kembali ke orang tuamu dari tugasmu menghabiskan uang perkuliahan. Itu artinya kita akan berjauhan. Hari itu kita berjanji bertemu saat sore datang, tapi sepertinya langit lebih mengerti kegelisahanku. Diluar sana gerimis tipis, hawa dingin tak henti memeluk pertemuan kaku itu. Kamu pesan minuman panas, aku sendiri berusaha menelan dinginku dengan sengaja memesan minuman dingin.

“Dua hari lagi aku akan pulang” katamu seperti tak terjadi sesuatu.

Suaraku terasa tertahan dan hanya bisa bilang “oh begitu.”

Pembicaraan sudah mulai kehilangan arah. Hingga pesanan datang, kami hanya diam.
Kemudian kamu melanjutkan kegemaranmu, menghisap rokok, barangkali kamu sengaja membuat aku semakin gagu dibangku bernomor 40 itu.

“Jalan sama kamu seperti mendaki gunung, terjal, berbatu, butuh tenaga dewa, tapi seru.”

Wajahmu yang tadinya tenang berubah heran lalu tertawa, “Hahaha.”

Entah bagian mana yang lucu, sepertinnya sia-sia aku membela diri.

“...tapi aku terkadang letih, jalan yang menyenangkan berbeda arah dengan jalan ini” desakku agak menggugat.

“Memang ada banyak jalan, kamu sudah besar sayang, bisa menentukan, hanya saja kalau kamu bersikeras mengikuti jalanku, aku akan memimpinmu, membukakan jalan pada semak-semak, mencari jalan yang bisa kamu lalui.”

Kebiasaanmu menggunakan kata sayang pada saat aku letih begini sudah menjadi andalanmu.

“Aku sudah berjalan bersamamu kak, untuk kembali ke titik awal itu mustahil, aku masih mampu seperti ini.” Dengan senyum kamu hanya bilang, “kesetiaanmu itu...makasih.”

Satu jam berlalu dengan cepat, makanan yang sudah menjadi dingin, minuman dingin, suasana dingin, obrolan dingin. Sendok dan garpu segera kamu letakkan dengan sisa dipiringmu.

“Mengapa makanan itu disisakan kak?”

“Sudah dingin, menjadi tak berselera.”

Tamat riwayatku, semoga kamu masih berselera dengan ikatan kita. Sambil mengetuk meja beberapa kali, juga dalam hati aku bermantra amit-amit.

Ah kakak, selalu saja aku gagu didepanmu, kehilangan kekuatan, mudah sepertinya bagimu membolak-balik hatiku.

“Sayang, sebaiknya kamu cepat pulang, sudah hampir malam.”

Lagi-lagi aku menurutinya seperti menenangkan tangis anak bayi “baik kak.” Dan aku baru sadar, bahkan kepergianmu aku tak menyiapkan seuntai bingkisan pun.
Sengaja aku tak melihat punggungmu, hanya aku dengar kamu berpesan : “jaga dirimu sayang.”
Aku mengiyakan dalam hati, juga untukmu kak.

Senja berpulang, seperti kita. Kamu kembali ke barat, aku tetap disini. Perpisahan langit dan matahari. Akankah esok masih ada perpisahan-perpisahan indah?


Jogja, 19 April 2012

Foto adalah kedamaian senja di Tebing Dewa 

Rabu, 18 April 2012

Barat I


Masih antara perjalanan dan persinggahan, keduaanya tak ada penyekat kuat.

Tentunya dalam tiap persinggahan akan ditemui dongeng-dongeng, lakon, bahkan dalang jadi-jadian. Perjalanan yang pelan-pelan atau tergesa-gesa  tidak menjadi ukuran kemerdekaan dari sebuah umur, umur apapun, apapun.

Pelan-pelan hanya akan membunuh kesempatan. Tergesa-gesa, berjalan cepat, berlari tentang sikap-menyikapi hanya akan membuang waktu, karna perjalanan harus diulang dari awal kembali.
Atau baiknya adalah menyikapi dengan damai, mengiklaskan didalam hidup.


Minggu, 15 April 2012

Barat




Barangkali perjalanan sangat gemar bersapa dengan persinggahan. Persinggahan menawarkan berbagai aneka rasa. Dimulai dengan kesejukan, kebahagiaan, kekecewaaan, pengharapan, atau mungkin peradilan.


Suka kau pada persinggahan?
Dan aku?
Persinggahan yang bagaimana yang boleh aku rasuki?
Persinggahan dengan segenap kepercayaan, tanpa ada yang kita cintai selainNya.


Sederhana bukan main kedengarannya





*Foto diambil dari kaki Gunung Merapi, akhir 2011.

Sisi Barat






Pada hakikatnya seluruh makhluk adalah bercinta dengan perjalanan.

Singgah pada rahim sang ibu, menjejak bumi, dijemput kematian, kembali kepada Allah Azza wa Jalla hingga waktu yang tak terbatas.Perjalanan sederhana ini bahkan menjadi rumit dalam otak manusia, kecuali pada penciptaNya. Tuhanku tak pernah mencipta tanpa fungsi dan manfaat. Sekecil apapun sesuatu di bumi ini rupanya berfungsi luar biasa. Tuhanku pemilik cerita, selayaknya makhluk berlaku sesuai prosedur yang nantinya mengantar kepada kehidupan abadi, surga.


Semestinya perjalanan ini dimulai dengan ikrar, kesaksian terbesar bahwa Allah SWT adalah Tuhan satu-satunya. Selanjutnya dalam hidup ini manusia belajar, melaksanakan ujian, belajar, diberi kewajiban, ujian, dan juga ujian. Mendapatkan rapor manakala waktunya tiba, nilai yang ada menjadi dasar pada tempat dan ruang yang selanjutnya.


Keseluruahan proses tak lain untuk dapat bertemu seabadinya penghidupan.



*Foto adalah nuansa senja di Mangunan, Imogiri. Tempat ketenangan :)