Sudah ku ketahui beberapa hari belakangan ini, kamu akan
segera kembali ke orang tuamu dari tugasmu menghabiskan uang perkuliahan. Itu artinya
kita akan berjauhan. Hari itu kita berjanji bertemu saat sore datang, tapi
sepertinya langit lebih mengerti kegelisahanku. Diluar sana gerimis tipis, hawa
dingin tak henti memeluk pertemuan kaku itu. Kamu pesan minuman panas, aku
sendiri berusaha menelan dinginku dengan sengaja memesan minuman dingin.
“Dua hari lagi aku akan pulang” katamu seperti tak terjadi
sesuatu.
Suaraku terasa tertahan dan hanya bisa bilang “oh begitu.”
Pembicaraan sudah mulai kehilangan arah. Hingga pesanan
datang, kami hanya diam.
Kemudian kamu melanjutkan kegemaranmu, menghisap rokok,
barangkali kamu sengaja membuat aku semakin gagu dibangku bernomor 40 itu.
“Jalan sama kamu seperti mendaki gunung, terjal, berbatu,
butuh tenaga dewa, tapi seru.”
Wajahmu yang tadinya tenang berubah heran lalu tertawa, “Hahaha.”
Entah bagian mana yang lucu, sepertinnya sia-sia aku membela
diri.
“...tapi aku terkadang letih, jalan yang menyenangkan berbeda
arah dengan jalan ini” desakku agak menggugat.
“Memang ada banyak jalan, kamu sudah besar sayang, bisa
menentukan, hanya saja kalau kamu bersikeras mengikuti jalanku, aku akan
memimpinmu, membukakan jalan pada semak-semak, mencari jalan yang bisa kamu
lalui.”
Kebiasaanmu menggunakan kata sayang pada saat aku letih
begini sudah menjadi andalanmu.
“Aku sudah berjalan bersamamu kak, untuk kembali ke titik
awal itu mustahil, aku masih mampu seperti ini.” Dengan senyum kamu hanya
bilang, “kesetiaanmu itu...makasih.”
Satu jam berlalu dengan cepat, makanan yang sudah menjadi
dingin, minuman dingin, suasana dingin, obrolan dingin. Sendok dan garpu segera
kamu letakkan dengan sisa dipiringmu.
“Mengapa makanan itu disisakan kak?”
“Sudah dingin, menjadi tak berselera.”
Tamat riwayatku, semoga kamu masih berselera dengan ikatan
kita. Sambil mengetuk meja beberapa kali, juga dalam hati aku bermantra amit-amit.
Ah kakak, selalu saja
aku gagu didepanmu, kehilangan kekuatan, mudah sepertinya bagimu membolak-balik
hatiku.
“Sayang, sebaiknya kamu cepat pulang, sudah hampir malam.”
Lagi-lagi aku menurutinya seperti menenangkan tangis anak
bayi “baik kak.” Dan aku baru sadar, bahkan kepergianmu aku tak menyiapkan
seuntai bingkisan pun.
Sengaja aku tak melihat punggungmu, hanya aku dengar kamu
berpesan : “jaga dirimu sayang.”
Aku mengiyakan dalam hati, juga untukmu kak.
Senja berpulang,
seperti kita. Kamu kembali ke barat, aku tetap disini. Perpisahan langit dan matahari.
Akankah esok masih ada perpisahan-perpisahan indah?
Jogja, 19 April 2012
Foto adalah kedamaian senja di Tebing Dewa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar